A Short Story of Diana


Diana, seorang gadis muda yang rapuh. Hatinya selama ini telah lusuh karena luka. Cinta, persahabatan atau apapun itu yang berkaitan dengan kehidupan diluar rumahnya terasa membuatnya begitu sesak. Sampai sampai ia lebih memilih untuk hidup seorang diri daripada ia harus memberikan kepercayaan dan juga hatinya untuk orang lain. Semua yang ada dihadapannya, semua yang terlihat olehnya hanyalah omong kosong belaka, sebuah ilusi yang tak mungkin ada. Sebuah mimpi yang hanya akan menyisakan luka, begitulah anggapannya. Karena itulah hatinya beku, dingin bahkan tertutup untuk hal apapun.

Mimpi…? Tentu saja

Diana juga punya impian dan cita-cita dalam hidupnya. Impian yang begitu ia dambakan, impian dan cita-cita yang ia baru temukan setelah melewati semua hal yang tak masuk akal, sebuah cita-cita yang dianggapnya biasa oleh orang-orang terdekatnya.

Diana tak peduli tentang apapun yang dikatakan oleh orang-orang itu, ia tetap teguh memegang erat tongkatnya itu. karena baginya, asa itulah yang memberinya harapan dan memberinya arah untuk berjalan ke depan. Sebuah dunia yang bahkan tak pernah difikirkannya sejak kecil. Sebuah dunia yang terasa asing namun begitu membahagiakan dirinya. Asa yang membuat nya sadar akan bakat dalam dirinya.

Akan tetapi, keadaan membuat asa itu terasa jauh baginya. Bahkan terasa sulit untuk di jangkaunya. Diana merasa kalau situasi yang ia hadapi saat itu adalah tantangan dan juga hambatan untuknya.

Ia tak menyerah meski kesulitan itu sedikit demi sedikit membuatya semakin lelah dan lengah. Diana justru membuat semua kesulitan itu menjadi sebuah awal kisah dalam cerita petualangannya. Dan ia berharap ia bisa menyelesaikan kisah itu. meski pada akhirnnya ia tak lagi sempat memegang pena kesayangannya.

Alasannya .. kedua orang tuanya mengharapkan hal lain dalam hidupnya itu.

Layaknya petir yang menyambar pohon hingga tumbang, atau bahkan bisa disebut sebuah pedang yang menggores tangan, kecil tetapi terasa begitu perih yang luar biasa. Diana merasa cobaan kembali menerpa kisah hidupnya.

Ia mencintai asa dalam hidupnya itu. Sebuah cita-cita dan juga hobi yang menenami kesendirian hidupnya selama ini. menjadi temannya saat kesendirian, menjadi penghibur saat hatinya terluka. Tapi sekarang, orang tua yang ia sayangi menginginkan hal lain yang terasa berat olehnya. Bahkan mungkin membuat hidupnya terasa semakin hampa.

Meski begitu, Diana tak ingin menyakiti hati kedua orang tuanya. Ia sadar, karena tanpa mereka, Diana tak mungkin hidup dalam dunia yang fana ini. Ia tak mungkin mengenal abjad abjad yang begitu dicintainya, dan ia tak mungkin mengenal ayat-ayat yang selama ini dipanjatkannya. Begitulah faktanya. Orang tua memang harus diutamakan !

Mulai saat itu, Diana pun menuruti permintaan orang tuanya. Meskipun terkadang ia merasa tertekan karea takut. Takut kalau-kalau ia akan mengecewakan kedua orang tercintanya itu, takut kalau ia tak bisa membahagiakan kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya itu. Diana merasa cemas. Hingga seiring berjalannya waktu ia kembali menuliskan coretan kecil di buku usangnya, meski tak terlalu indah sajak nya, ia merasa lega. Karena setidaknya ia mampu kembali memegang pena itu. menuliskan kisah yang ia jalani saat itu. membuatnya kembali ceria. Bahkan semangat kecil mulai tersult dalam hatinya. “ Ya Tuhan, terima kasih.. kau selalu mendengar doa-doa ku, terima kasih karena mengabulkannya, terima kasih karena Kau menyayangiku” ungkapnya.

Kini hari – hari ia lewati seperti biasanya. Meski kadang terasa hampa. Setidaknya buku kecilnya kembali menjadi kawan dalam hidupnya yang terasa gersang.

Hingga suatu saat, ia menemukan kebahagiaan kecil dalam keluarga sederhananya itu. sebuah kebahagiaan yang begitu sederhana, namun sungguh luar biasa. Ia sendiri bahkan tak lagi mampu menuliskannya. Mungkin, hanya Tuhan yang tahu perasaan bahagianya saat itu.

Waktu terus berjalan kedepan. Lembar demi lembar dalam bukuya mulai terisi. Dan saat itu hanya tertulis kebahagiaan dalam bukunya. Diana merasa begitu senang. Karena meski kehidupan yang ia jalani sederhana, namun kebahagiaan selalu membalut hatinya.sebuah cerita kecil yang memenuhi hari-harinya membuatnya terasa damai, nyaman dan tenang.

Hingga detik demi detik waktu yang berjalan. Diana mulai merasa ada sesuatu yang melubangi hatinya. Sesuatu yang ia rindukan, sekaligus sesuatu yang ia takutkan.

Cinta …

Sulit untuk mengatakan lima huruf itu bagi Diana. Karena ia merasa takut hatinya akan kembali terluka, karena selama ini cinta hanya membuat hari-harinya penuh dengan tangisan. Luka, kecewa, sakit dan berakhir dengan hati yang tergolek lemas tanpa rasa. Semuanya membuatnya merasa hambar dan dingin. Hingga akhirnya ia tak ingin menyebut kata itu lagi.

Manusia tanpa cinta.. bak lautan luas yang tiada berpenghuni. Kosong dan hampa.

Cinta memang member manusia kekuatan, tapi juga luka. Tapi itulah yang namanya kehidupan. Sama – sama saling mengisi kekosongan.

Di usianya yang beranjak ke Sembilan belas tahun itu Diana berdoa… semoga Tuhan megirimkannya seseorang untuk menutupi lubang hatinya itu, mengobati luka lamanya itu. dan semoga…

Entah itu keajaiban atau memang kebetulan. Tepat tanggal dimana usia Diana menjadi Sembilan belas..ia berjumpa kembali dengan teman lamanya, seseorang yang menjadi teman saat ia bersekolah di di menengah pertama, namun ia tak lagi bisa menjumpainya.

Diana tak menyadari keadaan itu. Yang ia tahu saat itu adalah hatinya kembali berdetak setiap saat bayangan pria itu muncul kembali di kepalanya.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi denganku.. mungkinkah aku menyukainya?” batinnya.

Hari-harinya terlewati dan terus memikirkan pria itu. Hingga pada akhirnya mereka kembali menyambung tali yang pertemanan yang pernah putus itu.

Detik demi detik, waktu demi waktu.. perasaan cinta yang muncul antara mereka mulai terlihat jelas. Dan sekarang, pria itu tlah menjadi kekasih hatinya. Mengobati segala luka, mengobati kerinduan dan menutup lubang hati yang selama ini mengganggunya.

Dan pada akhirnya Diana tersadar..

“Ya Tuhan, apakah ini jawaban atas doaku dulu? Doa yang kuharapankan di hari ulang tahunku? Atau hanya sebuah kebetulan semata? Keajaiban-Mu sugguh nyata..”

Ribuan ucapan syukur terlontar di kedua bibirnya … air mata bahagia terkumpul dan mengalir di kedua pipinya… perasaan senang, bahagia dan juga rasa terharu berumpul menjadi satu dalam hatinya..

Pria itu begitu lembut dan menyayanginya.. meski terkadang ia tak pernah menunjukkan perasaan yang sebenarnya.. namun cintanya terus membuat Diana yakin dan percaya… hingga ikrar cinta terucap antara keduanya. Bukankah itu cukup bahagia bukan?
Satu saranku.. tapi percayalah pada kata-kata ini

“Tuhan menguji hambanya karena berarti ia sayang terhadap hamba itu, cobaan yang diberikannya adalah bukti bahwa Yang Maha Kuasa peduli terhadap hamba-Nya..Karena berarti Yang Maha Pengasih dan juga Maha Penyayang ingin meletakkannya di tempat yang lebih baik!”

Diana harus berpisah dengan tiga kebahagiaan itu !

Sungguh.. semua terasa begitu sangat berat baginya. Bahkan terlalu berat. Tapi itulah yang harus dilakukannya.. demi kedua orang tuanya dan juga dirinya !

Itulah yang kakak Diana ucapkan.

To be continue !

Advertisements

3 thoughts on “A Short Story of Diana

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s