Jendela Kaca Part 1


gif_12-01-09-31-161

Why I’m Different?

Sebuah siang yang begitu panas dan melelahkan bagi seorang gadis bernama Nadin. Ia terlihat tengah sibuk membantu ibunya berjualan ikan dekat pelabuhan. Kesehariannya setelah pulang sekolah adalah bekerja membantu ibunya. Dan malamnya gadis delapan belas tahun itu akan belajar, terkadang.

Karena faktanya, ia akan lebih memilih jalan – jalan atau menyibukkan diri dengan aktivitas yang berkaitan dengan koreanan nya itu ketimbang belajar.

“memangnya kau tidak takut kalau nilaimu jelek ya ?” tanya vita.

“aku bisa belajar di pagi hari” balas gadis itu lalu menghabiskan sisa minuman di gelas kaca kantin sekolahnya.

“aku heran kenapa kau suka sekali dengan semua hal yang berkaitan dengan korea?” tanyanya”  Kpop , wisata, rumah adat, sejarah bahkan garis lintang nya pun kau pelajari. Bukankah itu berlebihan?”

Nadin hanya tersenyum mendengar ucapan temannya itu

“ aku tidak peduli.. yang terpenting aku tahu bagaimana caranya membuat hidupku lebih berwarna. Entah itu hanya sekedar impian.. setidaknya itu menjadi penyemangat hidupku. Dan setidaknya aku masih punya impian” balasnya yang lebih terlihat miip dengan ceramah

Vita hanya nyengir mendengarnya “ kau kan tahu anak – anak menilaimu alay kan Nadin ?”

“Bodo amat, setiap orang berhak berpendapat bukan? Lagipula bukan mereka yang peduli dengan kehidupanku, kenapa harus repot-repot mengurus  kehidupaku! ” tambah Nadin “ sudah ayo ke kelas”

“baiklah “

Malam Harinya…

Wow.. Fantastic baby ! Dance.. I want dance dance dance dance

Boom shakalaka Boom shakalaka Boom shak ….”

            “NADINNNNNNN !!!”

“ah.. mulai lagi “ keluh gadis itu menghentikan tariannya. Ia pun dengan sukarela berjalan menuju pintu kamarnya dan mencari sumber suara.

“ sudah kubilang jangan nyanyi – nyanyi terus .. didengar tetangga malu tahu ! nyanyian mu itu tak ada yang paham artinya “ ujar ibunya ketika melihat nadin keluar dari kamar dan menemuinya didapur. Hanya saja gadis muda itu justru terlihat santai dengan nasehat ibunya.

“ apa salahnya menyanyi.. ini kan Cuma untuk menghibur saja bu” ucapnya sembari mencicipi kacang telur yang dibikin ibunya.“ ah panas..” teriaknya. Dengan serta merta ia  memuntahkan kacang yang sudah masuk kedalam mulutnya.

“ kamu ini perempuan masa gak tahu sopan santun sedikit sih!” keluh Kartika. Nama itu terdengar begitu lembut dan santun untuk sosok seorang ibu, tapi tidak demikian dengan Nadin. Nadin menganggap ibunya adalah orang paling cerewet baginya.

“ ibu.. nanti aku pengen kuliah di Jakarta ya.. kalau disana kan aku bisa liat konser Kpop” ujarnnya dengan nada begitu santai dan datar saat duduk di  kursi dapur dan melihat ibunya memasak.

“kau mau kuliah apa mau main?  kalau kau ke Jakarta yang bantuin ibu jualan ikan siapa ha ?”

“ hhul.. memangnya ibu ingin aku jadi penjual ikan terus ya.? Yaudah lain kali aku kesana dengan tabunganku sendiri mau nonton konser kpop ” sanggahnya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

Ibunya hanya menggeleng – gelengkan kepalanya melihat kepergian nadin yang tanpa dosa itu kembali menuju kamarnya.

“Anak itu dapat wangsit koreanan darimana sih? Tiap hari yang diomongin itu-itu saja” ucap ibu Nadin menghela nafas herannya. Ia pun kembali melanjutkan acara memasaknya.

Sementara itu Nadin begitu kesal di kamarnya.

“Padahal aku pengen nonton konser nya Big Bang .. Seungri oppa.. Saranghae” ucapnya dengan tangan mengelus foto seungri yang terpajang di salah satu figura kamarnya.

Drtt drttt…

“siapa yang sms? Kejadian langka ada yang sms aku “ ucap gadis itu cuek

From : Unknwon people

Malam.. Udah ngerjain tugas matematika belum ? besok dikumpulkan. Jangan lupa ya bandel J

 

Nadin hanya tersenyum kecut melihat pesan itu, apalagi yang memberinya pesan adalah mantan kekasihnya, Erik. Ia sengaja menulis kontak orang itu dengan sebutan Unknown people agar ia merasa asing

“dia itu tidak malu apa tidak punya malu.. heran”

Gadis itu hanya meletakkan ponselnya begitu saja tanpa membalasnya. Ia terduduk di meja belajarnya dan memandangi sebuah kotak kado di bawah tempat tidurnya. Tak lama kemudian ia pun mengambilnya dan membuka kembali kotak hadiah itu.

Sebuah bola voli, setangkai mawar dan juga beberapa buku catatan kecil. Terlihat sebuah benda kecil terselip diantara buku itu. Nadin mengambil mawar itu dan melihat sebuah cincin tergantung disana. Nostalgianya kembali muncul. Tapi ia berusaha untuk melupakan kenangan itu. Kenangan yang membuatnya benar – benar mati rasa.

Erik.. kenapa luka ini begitu dalam.. aku bahkan tak bisa melihat apapun disekitarku saking gelapnya

Tergambar jelas bagaimana terlukanya nadin kala itu, hanya saja ia tak pernah ingin membahas semua luka hanya karena hal bodoh yang disebutnnya cinta itu.

Nadin memasukkan kembali barang – barang itu dan meletakkanya dibawah tempat tidur. Ia menghapus keringat di matanya yang tanpa seizinnya telah keluar begitu saja. pikirannya melayang – layang antara cinta dan benci yang dirasakannya.

“Bodoh !”

Tak ingin lama – lama bersedih, Nadin pun memutar lagu “Tonight” milik Big Bang dan bermain gitar beriringan dengan lagu yang ia putar.

Bagi gadis itu, Musik adalah nafasnya. Tanpanya mungkin Nadin tak bisa menikmati apa yang dinamakan hidup. Karena setiap hal yang ia lalui semua terasa begitu menyedihkan. Lima lelaki itulah yang membuanya terus bersemangat walaupun terkadang ia merasakan begitu pahitnya hidup yang ia jalani. Music yang mereka  berikan memberinya inspirasi dan kekuatan yang tak terduga. Seakan – akan lagu yang mereka nyanyikan itu adalah sebuah kebahagiaan bagi Nadin.

Ia selalu berharap kalau kehidupannya bisa sedikit lebih baik seperti teman-temannya. Hidup baik, punya banyak teman nongkrong, punya pacar yang baik  dan perhatian dari orang – orang juga lainnya. Ia begitu ingin merasakannya Namun, itu hanya sebatas angan-angannya. Dan Nadin tak boleh iri dengan semua itu. Karena jika ia iri, maka ia akan terlihat menyedihkan bagi dirinya sendiri.

“Nadin.. besok jangan lupa antar ikan kerumah bibimu.” Pinta ibunya pelan di balik pintu kamarnya.

“iya bu” balasnya menahan tangis yang hampir pecah itu “memangnya takdirku jadi penjual ikan ya ??”

“Tuhan.. akankah aku akan terkubur disini tanpa menghasilkan karya atau apapun. Aku tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah seperti yang lain kalau aku tidak bekerja”celetuk Nadin. “Aku juga tidak punya banyak koneksi untuk bekerja di tempat yang bagus, temanku terlalu sibuk dengan kehidupan mereka masing – masing. Terkadang mereka juga memameriku masuk ke universitas yang bagus. Bagaimana bisa aku masuk ke universitas bagus, ibuku pasti melarangnya. Sedangkan kekasih.. aku rasa dia lebih memilih temanku daripada aku. Aku harus bagaimana Tuhan.. akankah aku sanggup menahan kepedihan ini sendiri?”  ucapnya lirih dengan memeluk diirnya sendiri.

“ Aku hanya ingin menggapai impianku. Menulisnya dilembaran kertas kehidupaku dan menjadikannya sejarah suatu saat nanti.  Apa harapan ini seperti asa yang tengah padam tanpa cahaya?”

Tangisnya pecah saat itu. Sembari menatap langit malam di luar jendela kaca kamarnya yang dibuka . Nadin menahan tangisnya agak tak terlalu keras. Ia tak mau ibunnya mendengar semua tangisan konyolnya itu.

Menatap langit luas yang begitu gelap malam itu.

“disana .. aku begitu ingin pergi kesana.!” Suaranya terdengar lembut seraya menunjuk sebuah tempat yang begitu jauh dari kamarnya.

“ Tapi kurasa itu hanya sebuah fiksi. Sedangkan faktanya, aku tak bisa melakukan apapun.. sungguh menyedihkan”

Langit yang mendung itupun kini mulai menitikkan tetes demi tetes air hujan. Segera Nadin menutup jendela nya dan kembali memandangi keadaan di luar kamarnya itu.

“Aku bertanya – tanya .. akan jadi apakah kehidupanku di masa depan nanti?”

Tanyanya lagi  menatap langit yang mulai hujan dengan begitu deras dibalik jendela kacanya.

“Nadin.. udah ngerjain PR matematika?” tanya vita begitu tiba di kelas

Sedangkan gadis yang ditanya hanya mengangguk.

“boleh pinjam ? please, kemarin aku lupa kalau ada pr din.. plisssss!!!” rayu vita dengan acting wajah memelasnya itu.

“ hhull.. bukannya kalau tiap kali pelajaran matematika kau nyontek terus ?”

Vita hanya nyengir lalu mengambil buku yang diberikan Nadin padanya.

“Thank you sister,aku akan membalas budi baikmu nanti “ jelasnya girang lalu buru – buru mengerjakan pr nya yang tertunda itu.

“kau ini tiap hari padahal yang dipikirin koreanan mulu tapi kenapa pelajaranmu baik-baik saja , aku saja yang tiap hari belajar gak pernah paham apa yang diajarkan guru!” gadis berambut pendek sebahu itu masih sibuk dengan buku yang ada didepannya bersamaan dengan pertanyaan yang muncul dari  bibir mungilnya.

Nadin hanya tertawa mendengar ucapan teman sebangkunya itu “ Mungkin itu sudah bawaan lahir aku pintar” guraunya dengan senyum manis diwajahnya “kau belajar? Sejak kapan vit?”

“oh oh oh.. sebagai siswa teladan saya belajar setiap hari.. terutama belajar menyiapkan buku dan memasukkannnya kembali kedalam tas kemudian beralih profesi” balasnya sambil tertawa.

Kedua gadis itu tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon mereka. Meskipun ucapan mereka terkadang bisa dibilang Nyeleneh, tapi itulah persahabatan mereka. Jujur dan apa adanya. Berbagi ketulusan satu sama lain karena mereka sudah begitu percaya satu sama lain sejak lama.

Namun tiba-tiba tawa Nadin lenyap melihat kedatangan sepasang kekasih yang memasuki kelas dengan romantis.

“sepertinya sang mantan masih belum bisa move on ya? ” ledek seorang gadis yang tengah berdiri disamping seorang pria dengan memandangi Nadin yang sedang duduk manis.

“cih, dia mulai lagi” ungkap Nadin kesal.

Namun sepertinya pria itu justru menyuruh pacarnya itu untuk diam dan duduk.

“Nayra, sepertinya meskipun kau jadi pengganti Nadin, kau tidak terlihat cocok untuk bahagia.. wekkk !” vita balas mengejek nayra yang tengah kesal.

“sudahlah vit.. kalau kau terus mengoceh kau akan jadi orang seperti dia juga” saran Nadin tanpa melihat mereka semua dan hanya fokus pada buku pelajarannya.

“oke sister “ balas vita senang lalu memberi ekspresi mengejek pada Nayra

Nayra terlihat begitu kesal lalu duduk kebangkunya.

“sudah kubilang aku memilihmu bukan berarti kau bisa mengejeknya seperti itu, kalau kau terus begitu lebih baik kita akhiri saja. Kau tahu itu kan!” tegur erik.

Gadis itu semakin kesal saat erik berkata demikian. Ia terlihat begitu kesal dan cemburu. Ia takkan pernah melepaskan erik, bagaimanapun juga. Ia sudah mencintai pria itu selama tiga tahun. Dan ia tak ingin melepasnya setelah ia mendapatkannya. Tidak akan.

Keheningan kelas itu kemudian pecah saat guru pun datang dan menyuruh mengumpulkan buku PR Matematika mereka dan memulai pelajaran.

Tapi tampaknya Erik diam – diam memperhatikan Nadin yang saat itu melamun ke luar jendela tanpa mendengarkan penjelasan guru.

Gadis itu menatap kosong pemandangan di luar jendela kaca kelasnya.

Lagi-lagi aku terhalang jendela kaca. Padahal sudah sangat jelas apa yang ada di depanku. Tapi ternyata ada pembatas antara aku dan dunianya. Hingga aku hanya mampu memandanginya saja. Menahan perasaan yang telah tertahan selama lima tahun ini. menahan semua kepedihan yang kurasakan saat ini. jendela kaca itu, akankah bisa ku tembus nantinya ?

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s